https://images.app.goo.gl/ARrt4eFXVMHTzUGd8

Under-consumption adalah gaya hidup yang berfokus pada membeli seperlunya dan memakai secukupnya. Ini bukan tentang pelit, bukan juga karena nggak mampu beli barang. Justru sebaliknya—gaya hidup ini lahir dari kesadaran akan pilihan pribadi:

“Apakah aku benar-benar butuh ini, atau cuma FOMO karena teman-teman sudah punya duluan?”

Konsep ini mulai banyak digaungkan oleh anak muda—terutama Gen Z—yang mulai sadar bahwa hidup yang penuh barang belum tentu bikin bahagia. Mereka lelah terjebak dalam pola yang berulang: beli barang karena diskon atau tren, lalu cepat bosan, dan akhirnya dibuang atau dibiarkan menumpuk di sudut kamar.

Sejak sekitar tahun 2023, tren ini makin terasa. Di berbagai media sosial, dari TikTok, Reddit, sampai Instagram, muncul banyak konten tentang decluttering, hidup minimalis, dan kesaksian orang-orang yang justru merasa lebih damai setelah mengurangi barang dan konsumsi. Mereka cerita bahwa dengan barang yang lebih sedikit, hidup jadi lebih ringan. Waktu luang nggak lagi dihabiskan buat scroll marketplace, tapi dipakai untuk belajar skill baru, baca buku, atau ngobrol bareng orang terdekat.

Lebih dari sekadar tren, under-consumption adalah perlawanan sunyi terhadap gaya hidup konsumtif yang didorong iklan, algoritma, dan budaya pamer. Gen Z ingin kontrol kembali atas hidup mereka. Mereka pengen bilang:

“Aku yang punya kendali atas apa yang aku beli, bukan notifikasi diskon di HP-ku.”

Gaya hidup ini juga membuat seseorang lebih menghargai apa yang sudah mereka miliki. Barang-barang jadi lebih terawat, dipilih dengan lebih selektif, dan punya nilai emosional yang lebih kuat.

Jadi, saat seseorang memilih untuk tidak membeli—itu bukan karena mereka takut ketinggalan, tapi karena mereka sudah cukup. Dan di tengah dunia yang penuh distraksi, bisa bilang “cukup” adalah bentuk kekayaan baru.

🌍 KENAPA GEN Z BERALIH KE GAYA HIDUP INI?

  1. Ekonomi yang Nggak Pasti
    Harga barang makin naik, dan Gen Z mulai mikir panjang. Mereka mikir, daripada beli lima kaus murahan yang cepat rusak, mending satu kaus bagus yang awet sampai dua tahun.
  2. Capek dengan Barang yang Menumpuk
    Ruangan penuh barang bikin stres. Banyak yang mulai bersihin kamar dan lemari supaya lebih lapang dan lega secara mental.
  3. Pengen Hidup Lebih Ringan
    Hidup minimalis bikin waktu, uang, dan energi bisa dipakai buat hal yang lebih penting. Misalnya, belajar skill baru, traveling, atau jaga kesehatan.
  4. Kesadaran Lingkungan
    Gen Z makin peduli dengan sampah dan limbah industri. Gaya hidup ini juga bentuk kontribusi kecil untuk jaga bumi.

💡 CONTOH PRAKTIS GAYA HIDUP UNDER-CONSUMPTION

Berikut beberapa kebiasaan yang mulai dilakukan Gen Z—termasuk yang di Jember:

  1. Masak sendiri, karena lebih hemat dan sehat daripada jajan tiap hari

2. Pakai laptop bekas tapi masih bagus, cukup tambah SSD biar kenceng, nggak perlu ganti MacBook tiap tahun.

3. Thrifting baju berkualitas, bukan buat gaya-gayaan, tapi karena lebih murah dan tahan lama.

4. Bawa tumbler & kotak makan, ngurangin botol plastik dan jajan impulsif.

5. Gunakan sepatu yang sama untuk kuliah, jalan, dan nongkrong, asal nyaman & versatile.



Informasi Penulis

Leave a Reply

FYP!

Discover more from Oblik.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading