Pada awal tahun 2025, berita tentang kesehatan Paus Fransiskus sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan umat Katolik dan masyarakat global. Pemimpin Gereja Katolik Roma ini mengalami penurunan kondisi kesehatan, diusianya yang lebih dari 80 tahun ini. Ini dikarenakan pneumonia ganda yang memerlukan perawatan intensif selama lima pekan di Rumah Sakit Gemelli, Roma. Meskipun demikian, Vatikan segera merilis pernyataan resmi bahwa Paus Fransiskus berhasil melewati masa kritis setelah menjalani operasi mengatasi masalah paru-parunya.
Ia kemudian menjalani pemulihan secara bertahap dan bahkan hadir dalam misa Hari Paskah terakhirnya pada Minggu (20/4). Kehadirannya menjadi sebuah momen yang tidak disangka-sangka dan menjadi perpisahan terakhirnya dengan umat Katolik dunia.
Senin (21/4) pagi waktu Vatikan, Paus Fransiskus meninggal dunia di usia 88 tahun di kediamannya di Casa Santa Marta, Vatikan. seperti dilaporkan dalam sertifikat kematian resmi yang dirilis oleh Vatikan, penyebab kematiannya adalah stroke mendadak yang menyebabkan gagal jantung. Tidak dapat dipulihkan. Kepergiannya terjadi dengan cepat dan tanpa rasa sakit, pada pukul 07.35 waktu setempat.

Waktu-waktu Terakhir Paus Fransiskus
Kepergian Paus Fransiskus meninggalkan kesedihan mendalam bagi dunia, terutama umat Katolik. Karena hanya berselang satu hari setelah menghadiri misa Hari Paskah terakhirnya di Lapangan Santo Petrus, Sang Paus tiada.
Dikutip dari Reuters , meski dalam kondisi lemah akibat penyakit pneumonia yang dialaminya, Paus Fransiskus tetap bersikeras untuk hadir dalam misa tersebut. Ia sempat ragu untuk melakukannya, namun Massimiliano Strappetti, perawat setianya, meyakinkan Paus bahwa ia sanggup menghadiri acara tersebut.
Dalam momen itu, Paus Fransiskus mengejutkan puluhan ribu umat Katolik yang hadir di Lapangan Santo Petrus. Karena setelah berminggu-minggu absen akibat sakit. Meskipun terlihat lemah, Paus menyampaikan khotbah dari balkon Basilika Santo Petrus, meskipun sebagian besar dibacakan oleh Uskup Agung Diego Ravelli. Ini juga menjadi kali pertama Paus naik popemobile setelah keluar dari rumah sakit. Momen ini juga sekaligus menjadi momen terakhir perjumpaan langsungnya dengan umat Katolik.
Setelah misa, Paus Fransiskus mengucapkan terima kasih kepada Strappetti atas dukungan dan dedikasinya. “Terima kasih telah membawaku kembali ke Lapangan,” ucap Paus dengan penuh rasa syukur. Kalimat tersebut menjadi salah satu kata-kata terakhirnya sebelum kepergiannya.

Keesokan harinya, pada Senin (21/4) pagi sekitar pukul 05.30 waktu setempat, kondisi kesehatan Paus mendadak menurun. Tim medis yang menjaganya melakukan penanganan cepat. Namun sekitar satu jam kemudian, Paus melambaikan tangan sebagai isyarat perpisahan kepada Strappetti di tempat tidurnya. Tak lama setelah itu, Paus mengalami koma hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir pada pukul 07.35 pagi.
Menurut laporan Vatican News , Paus Fransiskus sempat mengucapkan kalimat terakhirnya kepada Strappetti. “Thank you for bringing me back to the Square” (Terima kasih telah membawaku kembali ke Lapangan). Ucapan tersebut mencerminkan rasa syukur mendalam Paus atas kesempatan terakhirnya untuk bertemu dengan umat Katolik dunia.
Sehari sebelum kepergiannya, Paus Fransiskus juga sempat bertemu dengan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance pada Hari Paskah. Dirinya menunjukkan semangat yang tak kenal lelah dalam menjalankan tugas pastoralnya meskipun dalam kondisi tubuh yang rapuh.
Kunjungan ke Indonesia dan Pertemuan dengan Prof. Dr. Nasaruddin Umar
Salah satu momen penting dalam hubungan internasional Paus Fransiskus adalah kunjungannya ke Indonesia, negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia. Kunjungan ini mencerminkan komitmennya untuk membangun dialog antaragama dan mempromosikan harmoni serta toleransi antarumat beragama. Selama kunjungannya, Paus Fransiskus bertemu dengan berbagai tokoh agama dan pemerintah Indonesia, termasuk Menteri Agama saat ini, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. Yang pada saat itu sebagai imam besar masjid Istiqlal, Jakarta
Pertemuan antara Paus Fransiskus dan Prof. Nasaruddin Umar menjadi simbol penting dari upaya memperkuat hubungan antara umat Katolik dan Muslim. Dalam pertemuan itu, keduanya membahas isu-isu seperti perdamaian global, moderasi beragama, dan pentingnya dialog lintas iman dalam menghadapi tantangan dunia modern.
Kesamaan pandangan mereka tentang pentingnya kerjasama antaragama untuk menciptakan dunia yang lebih damai dan adil menjadi sorotan utama dari pertemuan ini.
Paus Fransiskus juga menekankan pentingnya Indonesia sebagai model kerukunan beragama di dunia. Ia memuji semangat toleransi yang telah ditunjukkan oleh masyarakat Indonesia, meskipun memiliki keberagaman suku, agama, dan budaya.
Hal ini sejalan dengan pesan utamanya dalam dokumen bersama “Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Berdampingan” yang ditandatanganinya bersama Imam Besar Al-Azhar Ahmed el-Tayeb pada tahun 2019.
Kesederhanaan Paus Fransiskus tercermin dalam gaya hidupnya, bahkan selama kunjungannya ke Indonesia. Ia menunjukkan sikap rendah hati dan mendekatkan diri kepada semua orang, tanpa memandang latar belakang agama atau status sosial. Sikap ini sangat dihargai oleh masyarakat Indonesia, yang dikenal dengan keramahannya dan tradisi gotong royong.

Meninggal setelah Hari Paskah, Inilah Warisan Dari Paus Fransiskus untuk seluruh masyarakat Indonesia
Melalui kunjungan dan dialognya di Indonesia, Paus Fransiskus tidak hanya memperkuat hubungan antara Gereja Katolik dan umat Islam, tetapi juga memberikan inspirasi bagi semua orang untuk bekerja sama demi menciptakan dunia yang lebih damai, adil, dan inklusif.
Meskipun Paus Fransiskus telah tiada, warisannya dalam mempromosikan perdamaian, kesederhanaan, dan dialog antaragama akan terus menginspirasi generasi mendatang.
Kehadirannya di Indonesia juga meninggalkan kesan mendalam, menunjukkan bahwa spiritualitas dan nilai-nilai kemanusiaan dapat menyatukan semua orang, melampaui batas-batas agama dan budaya.




Leave a Reply