Di beberapa kawasan populer Seoul, photobooth bisa ditemukan dengan mudah. Yang menarik bukan cuma jumlahnya, tetapi cara orang menggunakannya. Masuk booth, berpose, mencetak empat frame, lalu mengunggah atau menyimpan hasilnya sudah menjadi bagian dari aktivitas sosial.

Korea.net menggambarkan four-cut photo sebagai empat foto yang tersusun dalam satu strip vertikal. Format sederhana ini populer di kalangan anak muda Korea dan berkembang menjadi lebih dari sekadar foto.

Salah satu daya tariknya adalah kemudahan. Banyak booth bersifat self-service dan beroperasi tanpa staf. Pengguna bisa memilih frame, menggunakan properti, memperbaiki penampilan di depan cermin, mengambil foto, lalu mendapatkan hasil cetak dan dalam beberapa kasus versi digital.

 

Hal lain yang membuat format ini kuat adalah kemampuan beradaptasi. Frame bisa berubah mengikuti musim, karakter, artis, atau tema tertentu. Korea.net juga mencatat bahwa brand photobooth di Korea berlomba menawarkan frame dan pengalaman yang berbeda.

Di titik ini, photobooth mulai berubah menjadi media ekspresi. Orang tidak hanya bertanya, ‘Bagaimana hasil fotonya?’ tetapi juga ‘Frame apa yang kita pilih?’, ‘Pose apa yang cocok?’, dan ‘Momen apa yang ingin kita simpan?’

Format empat foto juga menciptakan ruang untuk bercerita. Foto pertama bisa formal, foto kedua mulai santai, foto ketiga lebih absurd, dan foto terakhir menjadi penutup. Empat kotak kecil akhirnya terasa seperti mini-komik tanpa dialog.

Fenomena Korea memperlihatkan satu hal: photobooth bisa menjadi lifestyle ketika pengalaman di dalam booth sama pentingnya dengan gambar yang keluar dari mesin.



Informasi Penulis

Leave a Reply

FYP!

Discover more from Oblik.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading