Kalau dipikir-pikir, selfie sebenarnya bukan ide yang benar-benar baru. Yang berubah hanyalah alatnya. Jauh sebelum kamera depan smartphone, orang sudah mencari cara untuk memotret diri sendiri tanpa bantuan fotografer.
Photobooth adalah salah satu bentuk self-photo yang paling jelas. Smithsonian Magazine menggambarkan photobooth sebagai ruang yang memberi kebebasan lebih besar karena tidak ada fotografer yang berdiri di depan subjek. Orang bisa bereksperimen dengan ekspresi, pose, bahkan momen yang lebih intim.
Perbedaannya dengan selfie smartphone cukup menarik. Selfie biasanya menghasilkan satu gambar digital yang bisa langsung dihapus, diedit, atau diunggah. Photobooth tradisional justru menghasilkan benda fisik. Strip foto itu bisa diselipkan ke dompet, ditempel di kamar, diberikan kepada teman, atau disimpan bertahun-tahun.
Di sinilah photobooth punya karakter unik: prosesnya memaksa kita berhenti sejenak. Ada hitungan mundur. Ada keterbatasan jumlah jepretan. Ada rasa penasaran sebelum hasil keluar. Bahkan kesalahan pose bisa menjadi bagian dari kenangan.
Format modern kemudian menggabungkan dua dunia. Banyak booth sekarang menyediakan hasil cetak sekaligus file digital, bahkan QR code untuk mengunduh hasil. Korea.net mencatat bahwa beberapa self-photo booth di Korea menyediakan versi digital dan klip singkat dari sesi pemotretan.
Jadi, selfie dan photobooth sebenarnya bukan dua budaya yang bertentangan. Keduanya berada di garis evolusi yang sama: manusia ingin merekam dirinya sendiri. Bedanya, photobooth menambahkan satu unsur yang tidak selalu diberikan kamera ponsel—ritual.
Ketika sebuah foto terasa seperti ritual, orang cenderung mengingat bukan hanya hasilnya, tetapi juga siapa yang ada di sebelahnya, tempatnya, dan suasana saat foto itu dibuat.







Leave a Reply