Bayangkan New York pada 1925. Belum ada Instagram, belum ada kamera depan, dan tentu belum ada istilah selfie. Namun orang sudah bisa masuk ke sebuah ruang kecil, duduk di depan kamera, lalu membawa pulang serangkaian foto dirinya sendiri.
Itulah salah satu bab paling menarik dalam sejarah photobooth. Library of Congress mencatat bahwa Anatol Josepho adalah penemu Photomaton, sebuah photobooth yang mulai diperkenalkan di 1659 Broadway, New York City, pada September 1925. Sistem ini membuat fotografi potret menjadi jauh lebih sederhana karena prosesnya dapat berjalan otomatis. Foto Josepho sendiri tersimpan dalam koleksi Library of Congress dan tersedia dalam resolusi digital tinggi, termasuk berkas TIFF berukuran besar.
Photobooth mengubah sesuatu yang sebelumnya terasa formal menjadi aktivitas spontan. Orang tidak perlu menyewa fotografer atau menyiapkan studio. Cukup masuk, membayar, mengikuti instruksi, lalu menunggu hasilnya. Smithsonian juga mencatat bahwa pada era awalnya photobooth membuat fotografi lebih terjangkau dan memungkinkan orang biasa menyimpan potret diri untuk berbagai momen kehidupan.
Menariknya, pengalaman tersebut punya kemiripan dengan photobooth modern. Hari ini orang masuk bukan hanya untuk mendapatkan gambar bagus, tetapi untuk mendapatkan pengalaman: memilih frame, bergaya, bercanda, mengulang pose, kemudian membawa pulang sesuatu yang bisa disimpan.
Jadi, ketika kita menyebut photobooth sebagai tren kekinian, sebenarnya kita sedang melihat teknologi lama yang terus menemukan cara baru untuk tetap relevan. Dari mesin mekanis di Broadway hingga booth digital dan konsep POV, prinsip dasarnya masih sama: memberi orang ruang untuk menjadi fotografer sekaligus objek fotonya sendiri.
Dan mungkin itu alasan photobooth tidak benar-benar hilang. Teknologi kamera berubah berkali-kali, tetapi kesenangan melihat diri sendiri muncul dalam sebuah strip foto ternyata tetap sulit digantikan.






Leave a Reply