Hidup tanpa internet bagi Gen Z rasanya hampir mustahil. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, hampir semua aktivitas ditemani layar. Mulai dari cari inspirasi outfit di TikTok, jajan lewat aplikasi, sampai kerja kelompok via Google Meet. Generasi ini memang lahir di tengah teknologi, sehingga kebiasaan digital sudah mendarah daging.

Teknologi memberikan banyak kemudahan: akses informasi tanpa batas, komunikasi lintas zona waktu, hingga peluang kerja yang terbuka lebar. Tapi di balik semua itu, ada paradoks yang menarik: semakin terkoneksi, kadang justru terasa semakin terpisah. Pertanyaannya, apakah semua digital habit ini bikin hidup lebih baik, atau justru bikin kita terjebak dalam dunia online tanpa henti?

Bangun Tidur Langsung Scroll

Banyak Gen Z membuka hari dengan ngecek notifikasi. Bukan doa pagi atau sarapan sehat, tapi langsung buka chat, timeline, atau TikTok FYP. Ritual sederhana ini seolah jadi mood booster, tapi kadang juga boomerang. “Cuma 5 menit” bisa berubah jadi 1 jam, sampai-sampai telat mandi dan berujung telah berangkat kuliah atau kerja.

Bayangkan skenario ini: jam 7 alarm berbunyi, niatnya cuma ngecek pesan WhatsApp. Eh, tiba-tiba muncul video lucu di TikTok, lanjut scroll ke dance challenge, lalu masuk ke gosip terbaru di Twitter/X. Tanpa sadar, waktu sudah jam 8.30. Sarapan nggak sempat, kelas online hampir kelewatan. Semua gara-gara “scroll bentar doang.”

Fenomena ini dikenal sebagai dopamine loop, di mana setiap notifikasi, like, atau video baru memberi sensasi senang sesaat. Tubuh jadi terbiasa mencari stimulasi baru secara terus-menerus, bahkan tanpa sadar. Akhirnya, bangun tidur pun rasanya hampa kalau belum lihat layar.

Multitasking Digital

Stereotip paling melekat pada Gen Z adalah multitasking. Belajar sambil dengerin musik, meeting sambil buka IG, atau nonton Netflix sambil scrolling Twitter/X. Seolah produktif karena bisa ngerjain banyak hal sekaligus, padahal otak terus lompat-lompat.

Dalam jangka panjang, multitasking digital justru bisa menurunkan fokus. Otak manusia sebenarnya nggak didesain untuk memproses dua informasi kompleks bersamaan. Akibatnya, energi terkuras, konsentrasi buyar, dan sering merasa sibuk padahal produktivitasnya menurun.

Nggak heran kalau banyak Gen Z yang bilang, “Aku capek banget hari ini,” tapi ketika ditanya apa saja yang dilakukan, jawabannya cuma, “Scroll-scroll aja.” Capeknya bukan karena aktivitas berat, tapi karena mental overload dari banjir informasi digital.

FOMO: Takut Ketinggalan Trend

Fenomena Fear of Missing Out alias FOMO juga jadi bahan bakar kebiasaan digital Gen Z. Nggak ikutan challenge TikTok rasanya aneh. Ketinggalan gosip artis di Twitter/X, jadi nggak nyambung obrolan tongkrongan. Bahkan berita viral di media sosial bisa jadi “mata uang sosial” — siapa yang update lebih dulu dianggap paling keren.

Namun, di balik rasa ingin tahu itu, FOMO sering menyamar jadi stres. Ada rasa bersalah kalau nggak online, atau cemas kalau postingan nggak ramai like. Padahal, algoritma media sosial memang dirancang untuk menumbuhkan rasa penasaran itu terus-menerus.

Beberapa bahkan rela begadang demi live streaming konser atau premiere drama Korea, padahal keesokan harinya harus bangun pagi. Semua demi “nggak ketinggalan momen.” Ironisnya, FOMO justru sering bikin orang kelelahan sendiri, secara fisik dan mental.

Second Account dan Persona Online

Gen Z terkenal punya “kepribadian ganda” di dunia digital. Ada akun utama yang rapi, estetik, dan terlihat sempurna, lalu ada second account (atau finsta) buat curhat, bercanda receh, atau upload hal-hal yang nggak mau dilihat publik luas.

Di sinilah dunia digital jadi panggung besar: semua orang bisa pilih peran yang ingin ditampilkan. Ada yang tampil elegan di akun utama tapi random banget di akun kedua. Bagi sebagian orang, ini cara menjaga kewarasan—membedakan antara “diri publik” dan “diri pribadi”. Tapi bagi yang lain, bisa juga jadi beban karena harus jaga “image” terus-terusan.

Fenomena ini juga memunculkan budaya baru: performative authenticity. Orang ingin terlihat jujur, tapi tetap dikurasi. Postingan “apa adanya” tetap dipilih yang “terlihat natural”. Akhirnya, batas antara realita dan persona digital makin kabur.

Produktif atau Konsumtif?

Tentu nggak semua digital habit berujung negatif. Banyak Gen Z yang justru produktif lewat dunia online: jadi content creator, freelance, bahkan bangun bisnis dari HP. Media sosial bisa jadi alat branding, dan internet bisa jadi modal belajar gratis.

Namun di sisi lain, konsumtif juga nggak bisa dihindari. Jajan online tiap malam karena promo ongkir, scroll marketplace sampai keranjang penuh, atau borong skincare “karena lagi viral” sering bikin dompet menjerit.

Fenomena ini disebut digital consumerism: dorongan membeli bukan karena butuh, tapi karena dorongan sosial dan impuls emosional dari dunia maya. Ironisnya, banyak yang belajar cara “menghasilkan uang online”, tapi di waktu yang sama juga “menghabiskan uang online.”

Efek Mental dan Fisik

Digital habit yang berlebihan jelas punya dampak. Mata cepat lelah, tidur berantakan, bahkan kesehatan mental ikut terpengaruh. Overthinking karena bandingin diri dengan orang lain di Instagram, insecure karena filter bikin standar kecantikan nggak realistis, atau cemas kalau nggak ada sinyal seharian.

Ada juga fenomena doomscrolling: kebiasaan terus-terusan baca berita atau update buruk di timeline. Bukannya dapat informasi sehat, malah jadi stres dan sulit tidur. Dunia digital memang seru, tapi juga bisa bikin capek kalau nggak punya kontrol.

Penelitian menunjukkan bahwa paparan layar berlebih bisa menurunkan kualitas tidur, memperparah kecemasan sosial, bahkan menurunkan empati karena interaksi tatap muka semakin jarang. Dengan kata lain, konektivitas digital kadang mengorbankan koneksi emosional yang sebenarnya lebih penting.

Belajar Balance

Gen Z nggak harus anti-teknologi. Yang penting adalah tahu kapan harus online, kapan harus offline. Coba atur screen time, lakukan digital detox sesekali, atau batasi notifikasi biar nggak gampang terdistraksi.

Mulailah dengan langkah kecil: matikan notifikasi di malam hari, jangan bawa HP ke meja makan, atau sisihkan satu hari dalam seminggu tanpa media sosial. Kebiasaan kecil seperti ini bisa membantu tubuh dan pikiran rehat dari kebisingan digital.

Buat ilustrasi gampangnya, bayangkan seharian tanpa HP: pagi lebih santai, makan siang benar-benar fokus ke makanan, ngobrol dengan teman jadi lebih dalam, dan malam tidur lebih cepat. Memang sulit, tapi bukan nggak mungkin. Bahkan 2–3 jam sehari tanpa layar bisa bikin pikiran lebih tenang.

Digital habit Gen Z memang unik: ada sisi seru, ada sisi capek. Kita bisa dapat banyak manfaat dari dunia online, tapi juga gampang terjebak kalau nggak hati-hati. Teknologi seharusnya jadi alat bantu, bukan pusat hidup. Jadi, lain kali kalau bangun tidur tangan otomatis meraih HP, coba pikir sebentar: apakah hari ini kita mau jadi produktif, atau cuma terjebak scroll tanpa henti?

Karena pada akhirnya, keseimbangan digital bukan soal meninggalkan dunia online tapi soal bagaimana tetap hadir sepenuhnya, di dunia nyata maupun dunia maya.

Ratna Septiana



Informasi Penulis

Leave a Reply

FYP!

Discover more from Oblik.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading

Discover more from Oblik.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading