https://images.app.goo.gl/d6C6HxLVEyQYwsLj9

KEMARAU BELUM DATANG-DATANG: APA YANG TERJADI DENGAN MUSIM DI INDONESIA?

Musim kemarau biasanya jadi sinyal perubahan besar di Indonesia. Mulai dari para petani yang bersiap tanam palawija yaitu tanaman selain padi seperti jagung, kacang tanah, kedelai, dan ubi hingga warga kota yang rutin menyalakan kipas angin 24 jam. Bagi petani, musim kemarau justru momen yang baik karena palawija tumbuh lebih optimal di lahan kering, tanpa genangan air yang bisa merusak akar tanaman.

Tanaman palawija juga penting sebagai sumber pangan dan penghasilan tambahan. Misalnya, jagung dan kedelai yang jadi bahan utama industri makanan, atau kacang tanah yang harga jualnya bisa tinggi di musim kemarau. Oleh karena itu, perubahan musim sangat berdampak pada perencanaan tanam dan panen para petani.

Tapi tahun ini berbeda. Sampai pertengahan Juni 2025, sebagian besar wilayah Indonesia justru masih basah oleh hujan.

Menurut data dari BMKG, baru 19% wilayah Indonesia yang masuk musim kemarau per awal Juni. Padahal biasanya, di bulan-bulan ini Jawa, Bali, dan sebagian Sumatra sudah mulai kering. Tapi tahun ini, hujan masih mengguyur banyak daerah bahkan dengan intensitas yang cukup tinggi.


Apa Penyebabnya?

BMKG menjelaskan fenomena ini terjadi karena:

  • Pengaruh netral ENSO (El Niño–La Niña) yang belum cukup kuat untuk memicu kekeringan.
  • Masih aktifnya Monsun Asia yang membawa uap air dari utara.
  • Gangguan atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) yang memicu hujan di beberapa wilayah.

Selain itu, tren iklim global yang makin tak menentu—seperti perubahan suhu laut dan pemanasan global—juga turut mengacaukan pola musim tahunan.

Dampaknya ke Warga

  1. Petani padi bisa panen lebih lama, tapi petani tembakau dan palawija jadi bingung karena butuh lahan kering.
  2. Daerah rawan longsor belum aman karena tanah masih gembur dan jenuh air.
  3. Pembangkit listrik tenaga air masih stabil, tapi daerah yang menunggu musim kemarau untuk perbaikan infrastruktur terpaksa menunda.
  4. Sektor wisata alam seperti pendakian, camping, dan pantai jadi terhambat karena cuaca sulit diprediksi.

Apa yang Bisa Dilakukan?

  • Pemerintah daerah bisa memanfaatkan kondisi ini untuk memperkuat edukasi mitigasi banjir dan longsor.
  • Petani perlu diberi info cuaca yang akurat agar bisa menyesuaikan pola tanam.
  • Warga bisa ikut menjaga lingkungan dengan tidak menyumbat drainase dan tetap hemat air meski masih musim hujan.

Jadi, Kapan Kemarau Sebenarnya Mulai?

BMKG memproyeksikan bahwa kemarau 2025 hanya akan berlangsung singkat dan telat datang. Kemarau diprediksi baru menyelimuti mayoritas wilayah Indonesia mulai akhir Juli hingga awal Agustus 2025, itu pun hanya selama 2–3 bulan.

Tahun ini kita harus belajar bahwa musim tak bisa ditebak seperti dulu. Adaptasi iklim bukan cuma soal teknologi, tapi juga soal kesadaran bersama untuk menjaga bumi dan siap menghadapi perubahan.



Informasi Penulis

Leave a Reply

FYP!

Discover more from Oblik.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading

Discover more from Oblik.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading