Pada Mei 2025, ekonomi China menunjukkan tanda-tanda perbaikan awal, dengan pertumbuhan PDB kuartal I mencapai 5,4% year-on-year , sedikit melampaui target tahunan sebesar 5% yang ditetapkan pemerintah. Namun, momentum ini belum cukup untuk mengatasi tantangan jangka panjang, terutama dalam membangkitkan konsumsi domestik yang lesu.

Langkah Beijing menggelontorkan stimulus senilai Rp677 triliun (US$41 miliar) untuk mendorong belanja mulai dari subsidi perawatan anak hingga diskon elektronik tetap menjadi strategi kritis dalam rangka Strategi China Atasi Krisis Ekonomi dan Ancaman Deflasi. Di tengah perlambatan sektor properti dan ketidakpastian global, pemerintah berusaha keras menjaga agar roda ekonomi tetap berputar.

baca juga : Tempat Ngopi Kece di Cexcy Cafe, Bikin Betah Berlama-lama

Perlahan Bangkit, Tapi Masih Rapuh

Meskipun pertumbuhan PDB kuartal pertama terlihat optimis, indikator mikroekonomi masih mengkhawatirkan. Harga properti nasional terus turun, dan tingkat konsumsi rumah tangga hanya bertumbuh 4% pada dua bulan pertama 2025, belum cukup untuk mengimbangi deflasi yang telah berlangsung 18 bulan berturut-turut.

Paradoxnya, China justru menghadapi risiko deflasi yang lebih dalam ketika permintaan domestik stagnan, sementara pasokan barang melimpah. Dalam situasi seperti ini, bisnis terpaksa memotong harga untuk menarik pembeli, sehingga pendapatan mereka menyusut dan upah pun sulit naik membentuk siklus negatif yang sulit diputus.

Pemerintah berupaya memperkuat daya beli dengan meningkatkan perlindungan sosial, seperti cuti berbayar dan kenaikan upah. Namun, keberhasilannya bergantung pada kepercayaan konsumen yang masih rapuh. Sebagai contoh, kenaikan jumlah perusahaan investasi asing (12.603 unit di Q1/2025, naik 4,3% ) menunjukkan optimisme pelaku usaha global, tetapi dampaknya pada konsumsi rumah tangga belum signifikan.

Akar Masalah: Struktur Ekonomi dan Budaya Menabung

Kesenjangan struktural menjadi penghambat utama dalam Strategi China Atasi Krisis Ekonomi dan Ancaman Deflasi. Sekitar 25% tenaga kerja China adalah pekerja migran berupah rendah dengan akses terbatas ke jaminan sosial. Hal ini membuat mereka cenderung menabung (hingga 32% dari pendapatan ) sebagai antisipasi risiko, bukan membelanjakan uang.

Budaya ini diperkuat oleh biaya hidup yang tinggi, seperti 6,8 kali PDB per kapita untuk membesarkan anak , salah satu yang tertinggi di dunia, sehingga keluarga enggan mengambil risiko ekonomi.

Sementara itu, sektor properti yang menyumbang 30% ekonomi China  masih dalam krisis. Ketergantungan rumah tangga pada aset properti sebagai simpanan nilai membuat konsumsi lebih berhati-hati. “Pulihnya konsumsi tak mungkin terjadi tanpa stabilitas sektor properti,” kata ekonom Gerard DiPippo.

Tantangan Kebudayaan dan Globalisasi

China juga harus menghadapi perubahan pola konsumsi pasca-pandemi. Festival belanja seperti “Double 11” kini kurang diminati, dengan platform e-commerce enggan merilis data penjualan karena hasil yang mengecewakan. Fenomena ini mencerminkan kebiasaan baru: konsumen China lebih hemat dan selektif, bahkan ketika ekonomi sudah dibuka.

Di sisi lain, tekanan global seperti perang tarif AS-China tetap menjadi ancaman. Meski Beijing berharap konsumsi domestik bisa menggantikan ekspor, ketergantungan pada investasi asing seperti lonjakan jumlah perusahaan asing di Q1/2025 menunjukkan bahwa reformasi struktural masih diperlukan untuk membangun ekonomi berkelanjutan.

Proyeksi dan Pertanyaan Kunci

Untuk mencapai target pertumbuhan 2025, Xi Jinping harus menjawab dua pertanyaan krusial dalam Strategi China Atasi Krisis Ekonomi dan Ancaman Deflasi :

1. Bagaimana membangun kepercayaan konsumen?

Langkah jangka pendek seperti subsidi perlu diimbangi dengan reformasi sistemik, seperti jaminan kesehatan universal dan peningkatan upah riil. Tanpa rasa aman secara finansial, masyarakat tidak akan mudah mengeluarkan uang.

2. Apa strategi untuk sektor properti?

Stabilisasi harga rumah dan restrukturisasi utang pengembang menjadi kunci mengembalikan sentimen rumah tangga. Sektor properti bukan hanya motor penggerak ekonomi, tetapi juga aset psikologis bagi mayoritas warga China.

Seperti kata Michael Pettis,

“Model ekonomi China selama empat dekade tidak bisa diubah dalam semalam.”

Namun, dengan pertumbuhan Q1 yang positif dan komitmen terhadap investasi asing, Beijing memiliki waktu untuk mengambil langkah berani sebelum krisis struktural menjadi lebih dalam.



Informasi Penulis

Leave a Reply

FYP!

Discover more from Oblik.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading

Discover more from Oblik.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading