
Bagi Gen Z, holiday bukan lagi sekadar soal koper, tiket pesawat, atau foto di tempat wisata. Liburan kini punya makna yang lebih luas—dan kadang lebih jujur. Bisa jadi soal healing, bisa juga cuma ingin kabur sebentar dari rutinitas yang melelahkan.
Di generasi yang hidup berdampingan dengan notifikasi tanpa henti, liburan sering kali menjadi bentuk perlawanan kecil terhadap hidup yang terlalu cepat.
Liburan di Tengah Hidup yang Selalu Online
Gen Z tumbuh di era digital, di mana kerja, hiburan, dan relasi bercampur dalam satu layar. Batas antara sibuk dan istirahat semakin tipis. Bahkan saat libur, otak sering masih bekerja.
Tak heran jika holiday bagi Gen Z tidak selalu berarti pergi jauh.
Kadang cukup:
- log out dari media sosial
- mematikan alarm
- rebahan tanpa rasa bersalah
- atau menghilang sebentar dari keramaian
Liburan berubah menjadi kebutuhan mental, bukan sekadar agenda tahunan.
Healing: Kata Favorit yang Punya Banyak Arti
Istilah healing begitu populer di kalangan Gen Z. Tapi maknanya sering kali personal.
Bagi sebagian orang, healing berarti:
- ke pantai sendirian
- naik gunung tanpa banyak bicara
- ngopi lama sambil mendengarkan playlist galau
Bagi yang lain, healing justru sederhana:
- pulang ke rumah
- tidur cukup
- mengobrol dengan orang terdekat
Healing tidak selalu estetis. Tidak harus selalu dibagikan. Kadang, ia hanya perlu dirasakan.
Kabur Sebentar, Bukan Menyerah
Ada kalanya holiday bukan tentang menyembuhkan, tapi menghindar sebentar.
Dari deadline.
Dari tuntutan.
Dari ekspektasi.
Dan itu tidak apa-apa.
Gen Z semakin sadar bahwa istirahat bukan tanda malas. Kabur sebentar bukan berarti gagal. Justru, itu bisa jadi cara bertahan.
Liburan menjadi jeda agar tidak kehilangan arah.
Liburan vs Konten: Dilema yang Nyata
Tak bisa dipungkiri, media sosial turut membentuk cara Gen Z berlibur. Banyak yang merasa liburan harus:
- estetik
- instagramable
- layak diunggah
Namun perlahan, muncul kesadaran baru:
tidak semua momen harus dibagikan.
Sebagian Gen Z mulai memilih liburan yang “sunyi”—tanpa dokumentasi berlebihan. Karena ternyata, menikmati momen jauh lebih menenangkan daripada mengejar validasi.
Holiday Lokal dan Budget-Friendly
Berbeda dengan stereotip liburan mewah, Gen Z justru banyak memilih:
- staycation
- liburan lokal
- trip singkat tapi bermakna
Bukan karena tidak mampu, tapi karena lebih relevan. Yang dicari bukan jarak, melainkan rasa cukup.
Liburan tidak harus mahal untuk terasa berharga.
Jadi, Holiday Itu Apa?
Bagi Gen Z, holiday bisa berarti banyak hal sekaligus:
- istirahat
- menyembuhkan
- melarikan diri sebentar
- atau sekadar bernapas lebih pelan
Tidak ada definisi tunggal. Yang penting, liburan memberi ruang untuk kembali menjadi manusia—bukan mesin yang terus berjalan.
LAST
Holiday ala Gen Z adalah tentang kejujuran pada diri sendiri. Tentang berani mengakui lelah. Tentang memilih jeda tanpa rasa bersalah.
Entah itu liburan, healing, atau kabur sebentar—selama itu membuat kita kembali lebih utuh, maka tidak ada yang salah.
Karena kadang, yang paling kita butuhkan bukan pergi jauh,
melainkan berhenti sejenak.
Ratna Septiana




Leave a Reply