
Kadang yang paling menyakitkan bukanlah kegagalan… tapi omongan tetangga yang tak kenal batas.
Di kawasan Laweyan yang dikenal dengan keindahan batiknya, tinggal pasangan sederhana, Luki dan Murni. Sehari-hari, mereka mengais rezeki dari berjualan jamu kesuburan—menebar harapan dan kesehatan bagi warga. Namun, di balik ketekunan mereka, ada luka yang belum sembuh, setelah delapan tahun menikah, mereka belum juga dikaruniai buah hati.
Awalnya hanya lirikan, lalu bisikan, dan akhirnya berubah menjadi cibiran. Dari warung kopi hingga pojok mushola, mereka jadi bahan obrolan. Ada yang menyindir, ada pula yang terang-terangan menyalahkan: “Kalau jamunya manjur, kenapa mereka sendiri mandul?”
Terhimpit rasa malu, tekanan sosial, dan kebutuhan bertahan hidup, Murni nekat berpura-pura hamil. Dibantu sang suami, mereka mulai membangun kebohongan yang rapi, perut buncit palsu, unggahan di medsos, hingga membawa bayi yang diklaim sebagai anak kandung dari “persalinan di luar kota.”
Awalnya, semuanya berjalan lancar. Tetangga senang, pelanggan kembali berdatangan, dan kehidupan mereka terasa sedikit lebih ringan. Namun seperti kata pepatah, “sepandai-pandainya menutup dusta, akhirnya terbuka juga.”
Kehadiran Bayu, tetangga nyentrik dan sok bijak (diperankan oleh Bayu Skak), justru memperumit segalanya. Niat baik Bayu kadang malah bikin suasana makin ricuh, tapi dari situlah muncul sindiran-sindiran tajam tentang budaya kita, kenapa terlalu peduli pada penilaian orang? Mengapa suara tetangga bisa lebih tajam daripada kenyataan hidup itu sendiri?
Saat semuanya mulai terbongkar, Luki dan Murni dipaksa memilih—terus hidup dalam kepalsuan demi citra, atau mengakui kebenaran meski pahit.




Leave a Reply